Cerpen

Pertarungan Sengit di Pemakaman Umum

“Aku pergi dulu.” Pamitku pada para pendukung fanatik. aku pergi meninggalkan mereka yang sedang bergejolak semangatnya untuk berperang, entah mengapa diriku ingin sesekali menghampiri TPU, tempat pemakaman umum milik warga, mungkin hanya untuk sekedar kirim rasa duka cita secara langsung, bagaimana tidak menyedihkan? Di masa perang—satu liang lahad berarti satu kelompok—bisa tujuh hingga sembilang orang masuk dalam satu bungkus kain kafan, dengan tubuh terputus-putus atau mungkin hancur berkeping-keping. Menjelang PILPRES bukan malah memikirkan strategi untuk menang—Aku malah merasa iba pada masyarakat Outdolesia yang saling memerangi dan membunuh dengan alasan masing-masing.

Aku tiba di TPU tepat pada malam hari, di antara makam-makam ini Aku berjalan pelan sambil membayangkan rasanya tidur selamanya di tempat sempit, apalagi berdesakan pula, malam ini angin berhembus kencang, dingin menjalari tubuhku yang hanya berbalut kaos oblong polos warna hitam, dan tiba-tiba aku bertemu dengannya. “Heii!! Kemarilah!! Aku tahu siapa kau!!” teriakku dari kejauhan. “Dasar pelacur!!” ketika kembali mengingatnya atau sekedar melihatnya aku masih betul-betul merasa ada gejolak api di dada.

Hari ini, beberapa hari menjelang pilpres, masyarakat Negara Outdolesia terbelah menjadi 2 kubu, lalu pecahlah keributan, bermula dari saling dukung jargonnya kemudian menjadi perang yang dahsyat dan sangat berbahaya, segala jenis senjata api digunakan untuk meredam keberanian satu sama lain, namun perkiraan keduanya salah besar, perang malah menjadi-jadi bom mulai digunakan dan korban mulai berjatuhan. Pemilihan presiden kali ini menjadi pemilihan insiden menyedihkan. Dan aku yang merupakan salah satu kandidat capres masih ada di pemakaman ini, berniat memberi penghormatan kepada pendukungku yang telah mati. Saat itulah dia terlihat kembali, setelah bertahun tahun aku tak lagi memikirkan dendam lama.

“Her!! Kau kira wanita sepertiku akan membiarkan seorang lelaki sepertimu menghina, hah!?” wanita itu berjalan pelan menujuku, angin berdesir beberapa kali mengiringinya, suasana kali ini mengatakan, bahwa dia yang sekarang musuhku, juga menyandang kenyataan bahwa dia adalah wanita yang dulu pernah ku damba-damba, sehingga cintanya kuidap sangat lama.

“Her!! Aku tahu kau telah memberikan banyak padaku waktu SMA dulu, termasuk anak yang kini turut membencimu dan memusuhimu.” Dia tertawa bengis beberapa saat, “asal kau tahu keturunanmu tak memiliki akal dan adab melebihi hewan ternakku.” Dia tertawa bengis kembali.

Sementara aku sungguh telah marah, dendam kesumat lama kembali terungkit di pemakaman ini. Kedua tangan kukepalkan sangat erat—aku begitu marah, aku yakin dia melihatku yang mulai kesetanan, tapi jika kau lihat seksama wanita itulah setan yang sebenarnya.

Angin kembali berdesir, seakan ingin membawa rambutnya berlari, sedang liang lahad—yang sudah seperti Gudang mayat, seakan berubah suasana dengan cepat menjadi menegangkan, para penghuninya mulai menonton kami berdua yang sedang saling tatap penuh dendam.

“Ada apa Her? Takut? Laki macam apa kau!? Bukankah wanita sepertiku pantas kau benci.” Tanyanya bagai tembakan beruntun pada otakku.

Setelah kuingat-ingat, aku benar-benar yakin Namanya adalah Putri, parasnya yang elok, suaranya yang lembut, membawa kepingan memori lama, dulu waktu masih berpacaran dengannya di usia SMA, kami berdua sering menghabiskan waktu dengan boncengan kesana-kemari, keluar masuk; mall, supermarket, wisata alam maupun wisata Gedung, hotel dan penginapan, intinya travelling menghabiskan waktu yang kuanggap tak ada gunanya, sampai kejadian yang tidak kuinginkan terjadi, aku terpaksa membencinya, dia hamil muda, meski kuanggap semua itu hanya bualan anak miskin rendahan, dan esok harinya di lapangan sekolah aku sedang seru bermain basket, tanpa kusadari ada seseorang dari kejauhan yang mengawasi gerak gerikku dari awal. 

Perkelahian pun tak dapat terelakkan, setelah ia berlari kencang dan menghantamkan bogemnya ke arahku.

Rico kiraa siapa diriku? Tinju rendahan sepertinya jelas tak mampu mengenaiku apalagi mengalahkanku, Rico anak akademis yang pendiam dan kurus, melawan diriku—anak atletis yang berandalan. Ketika duel berlangsung seisi sekolah menjadikan aku dan Rico tontonan sekaligus hiburan waktu istirahat, namun perkelahian tak sampai memakan waktu lama, usaha Rico sia-sia, dan bernasib dibully teman-temanku, entah hingga pingsan atau mati sekalian.

Aku terhenyak, waktu itu juga Putri menghampiriku, tangannya menampar wajahku yang sedang terpapar sinar matahari, dan ia hanya menegaskan, kita putus saja mulai hari ini!

Setelah kejadian itu, temanku banyak yang mengatakan, bahwa Rico dan Putri memilih menjauh dari sekolah, mereka pindah sekolah, pindah rumah bahkan daerah, mungkin disebabkan trauma yang mereka alami sangat dalam.

Di kuburan ini kutatap sekali lagi Wanita di hadapanku, Putri memang wanita, tapi berkat beladiri warisan keluarga yang diajarkan ayahnya, kemampuan Putri sungguh luar biasa, Putri mengepalkan tangan dan bergerak dengan Gerakan yang tidak kumengerti, mungkin salam awal dari beladirinya. Ia lantas memasang kuda-kuda tempur.

“Putri!! Tempatmu bukan di sini. Kalau memang aku pernah mencintaimu, itu dulu, sekarang dirimu tak lebih sebagai fakir benci kelas kakap. Sejahat-jahatnya aku padamu, kuyakin kau lebih kejam dan biadab, aku tahu selama ini yang membunuh orang tuaku kamu! Aku tahu selama ini kau mengincar hartaku dengan dalih mencintaiku, rencanamu setelah orang tuaku tiada, kamu tinggal menikah, semua warisan akan turun padaku sebab aku memang anak tunggal dan sambil berpura-pura sebagai istri, kau mungkin juga akan membunuhku sama seperti kedua orangtuaku.”

“Heriii, Herii baru kali ini aku tahu ada pria yang mengaduh kesakitan atas nasibnya sendiri, apalagi di depan wanita,” Putri tertawa “dirimu seakan tak punya kuasa untuk berdiri tegak, dulu aja tampangmu sok-sokan berandal atau apalah itu, nyatanya hanya pria lemah dan lembek.” Putri tertawa makin keras. “Herii kali ini tidak akan ada yang dapat menyelamatkanmu!”

Di saat cek-cok antara kami berdua memanas, sosok laki-laki yang kukenal juga turut datang di kuburan warga ini. Kukira dia sekarang masih berada di kursinya menanti pilpres berlangsung, cih sepertinya aku juga harus berhadapan dengan musuh lama. Dia Rico dan dia juga salah satu capres selain diriku, Rico berjalan mendekat, semakin mendekat dendam kesumat lama semakin keluar menguar dimana-mana.

Aku baru sadar, ternyata medan perang telah kutinggalkan lama sekali, aku tak tahu keadaan sekarang seperti apa, yang jelas hingga saat ini desing peluru dan suara bom masih terdengar jelas sekali.

Rico sudah berdiri di sebelah Putri, mereka saling tatap, dan mataku yang melihatnya merasa sangat panas.

Tak ada pilihan lain selain baku hantam, seperti yang diajarkan film-film perang pada anak anak, agar memupuk benci dari kecil dan memanen saat besar. Kuda-kuda tempurku sudah siap, ilmu kanuragan warisan keluarga juga sudah siap, sebelumnya sudah kusiapkan banyak ilmu dalam maupun luar, dan kini aku sudah sangat siap akan kemungkinan terburuknya. Pertarungan antara hidup dan mati.

“kau kira aku takut dengan wujud setan mu, HAH?” gertakku siap. “Put maaf, sepertinya wanita sepertimu lebih pantas kembali ke neraka, wanita yang telah mati sepertimu terlihat sangat belum mengikhlaskan urusan dunia.” Aku tertawa, “sudah mati, tapi masih ngotot balas dendam, cih.”

Putri semakin marah dan membalas ejekanku, “Aku akan membunuhmu kali ini, seperti engkau waktu itu yang membunuhku beserta anakmu yang kukandung, aku tidak pernah pindah sekolah, kau yang membuatku pindah alam, setelah sekian lama, akhirnya persiapanku telah berhasil, demi hari ini untuk melenyapkanmu!”

Aku tertawa, “Hah kau kira aku membunuhmu dengan sengaja? oh tentu tidak! Parasmu yang sempurna akan sia-sia kalau begitu, lebih baik kuberikan pada teman-temanku yang belum pernah merasakan bercinta dengan orang mati.” Aku tertawa lebih keras lagi. “dan yang pasti itu sebab dirimu selingkuh dengan Rico.” Tunjukku ke arah pria disamping Putri, dan kurasa Rico benar-benar tidak berguna di sini.

Oh, ternyata tebakanku salah. “Herii, mungkin ini waktunya, kau kubully, dua lawan satu, kuyakin kau tak bisa mengatasi kami berdua.” Rico terlihat seperti ingin mematahkan lehernya sendiri.

Kreeek, kreeek

Dan aku membalas dengan mencoba mematahkan jariku sendiri.

Kreek, kreek

“kau siap?” tantang Rico percaya diri.

“oh, tentu saja, sangat siap.” Jawabku santai. “sini majulah!!”

Pertarungan tak terhindarkan di atas kuburan para warga, arwah-arwah yang ada di bawah sana turut menyoraki pertarungan kami bertiga. Aku harus selalu menstabilkan fokusku pada dua ilmu secara bersamaan, ilmu dalam dan luar, sebab kali ini, aku juga harus melawan wanita dari alam yang berbeda.

Aku bertarung serius, pukulan dibalas pukulan, tendangan dibalas tendangan, ilmu dalam dibalas ilmu dalam, perkiraanku salah, ternyata Rico telah belajar banyak hal tentang beladiri, mungkin persiapannya juga telah matang dalam kondisi apapun.

Kita masih bertarung serius, meskipun berjam-jam telah terlewati, tiba-tiba Putri menyerang dari belakang berusaha mengunci pergerakanku, dan Rico dari depan melayangkan tendangan butterfly dengan penuh perhitungan. Kakinya mendarat tepat di kepalaku dan aku tersungkur memuntahkan darah.

Pertarungan belum selesai, diriku masih punya banyak tenaga, aku memutuskan melompat ke arah Putri dan membuat Gerakan guntingan, secara singkat guntinganku berhasil dengan bantuan ilmu dalam tepat mengunting lehernya yang mungil, Putri terjatuh.

Aku masih percaya tubuhku sanggup, tapi setelah kulihat jam tangan, ternyata besok adalah hari pilpres, aku tak punya banyak waktu, aku harus segera menyelesaikan pertarungan tak seimbang ini.

Para partai politik beserta pengikutnya mulai berdatangan memenuhi pemakaman, kali ini bukan berniat ziarah tapi menonton pertarunganku dan Rico, mereka mendukung jargonnya masing-masing, antara aku dan Rico, Putri tidak dapat pendukung sebab ia memang hantu yang gentayangan. Sekarang para penonton lebih ramai dan sorak-sorai lebih memekakkan telinga. Teriakan Heri! Heri! Heri! Bercampur dengan teriakan Rico! Rico! Rico!

Pertarunganku belum selesai, meski sudah sehari semalaman, mereka berdua sudah bersiap akan segala kemungkinan.

Kuburan mulai didatangi penonton dari berbagai kalangan, berbagai kepentingan dan dari berbagai alam. Semakin lama parpol-parpol mulai khawatir, jika aku dan Rico terus seperti ini, capres yang mereka dukung bisa mati. Akhirnya parpol mulai memerintahkan polisi dan militer memisahkan pertarungan kami, dan menyarankan agar lanjut di meja pilpres.

Tapi sayangnya kefokusan kami sudah tidak dapat diganggu lagi, kami sedang sengit sengitnya berkelahi, dendam lama tidak dapat diredakan, pertarungan tidak dapat dihentikan, apalagi dengan cara buang-buang janji murahan.

Matahari perlahan terbenam, presiden yang sekarang memutuskan datang.

DORR!!

DORR!!

Aku dan Rico tertembak di kepala, penonton yang bersorak mulai mereda, tubuhku lemas dan tersungkur, kepalaku mengenai nisan, pandanganku mengabur. Aku mati.

***

Entah apa yang terjadi selanjutnya di bumi, di neraka, aku, Rico dan Putri mulai sadar, dan melanjutkan pertarungan, sambil disiksa kami masih tetap bertarung tanpa henti, dosa-dosa biadab yang hanya bisa diselesaikan oleh siksaaan tak membuat kami gentar untuk saling serang.

Entah sampai kapan… 

Penulis: Hanif Nur Rifqillah

Leave a Reply